Jayapura – Pemerintah Kabupaten Biak Numfor bersama unsur TNI-Polri dan tim gabungan menggelar konferensi pers terkait perkembangan penanganan pasca ledakan yang diduga berasal dari bom peninggalan Perang Dunia II yang terjadi pada 31 Mei 2026. Kegiatan rilis dilaksanakan pada Sabtu malam (6/6/2026) di Gedung Negara Pemerintah Kabupaten Biak Numfor.
Rilis tersebut dihadiri oleh Bupati Biak Numfor Markus Oktovianus Mansnembra, S.H., M.M., Pj. Sekretaris Daerah Kabupaten Biak Numfor Zacharias L. Mailoa, S.T., M.M., Kapolres Biak Numfor AKBP Ari Trestiawan, S.H., S.I.K., M.H., Komandan Detasemen Gegana Sat Brimob Polda Papua AKBP Clief Gerald Philipus Duwith, S.E., S.I.K., M.Si., Anggota Komisi XIII DPR RI Yan Permenas Mandenas, unsur Basarnas Biak, perwakilan TNI AD dan TNI AL, Bid DVI Polda Papua, Tim Jibom Sat Brimob Polda Papua, dokter forensik RSUD Biak, Satpol PP, serta pejabat Polres Biak Numfor.
Dalam keterangannya, tim gabungan menyampaikan bahwa hingga H+7 pasca ledakan, jumlah korban meninggal dunia yang telah ditemukan sebanyak enam jenazah, sementara tiga korban lainnya masih dalam proses pencarian.
Tim DVI Polda Papua juga terus melakukan proses identifikasi korban. Pada hari ini, tim berhasil mengambil empat sampel DNA postmortem. Dengan demikian, selama dua hari terakhir telah terkumpul sepuluh sampel DNA yang selanjutnya akan dikirim ke Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri di Jakarta untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Selain itu, tim gabungan yang dipimpin Basarnas berhasil menemukan sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan korban maupun peristiwa ledakan, di antaranya dua serpihan bagian tubuh manusia, satu unit telepon genggam merek Evercross warna hitam, tiga buah dompet, satu buah pisau, satu buah gunting medis, satu buah pinset medis, serta satu unit GPS merek Garmin.
Sementara itu, berdasarkan hasil pemeriksaan dan sterilisasi yang dilakukan oleh Tim Jibom dan Gegana Sat Brimob Polda Papua, area Ring 1 atau lokasi yang diduga menjadi pusat ledakan telah dinyatakan steril dan bersih dari potensi bahan peledak. Meski demikian, aparat keamanan masih melakukan pengamanan ketat di sekitar lokasi serta melanjutkan olah tempat kejadian perkara guna mencari barang bukti lain yang dapat membantu proses penyelidikan.
Masyarakat juga diimbau untuk tidak memasuki area Ring 1 meskipun telah dinyatakan steril, guna mendukung proses penyelidikan dan menjamin keselamatan bersama.
Terkait korban luka-luka, seluruh korban telah terdata oleh Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial Kabupaten Biak Numfor. Saat ini seluruh korban menjalani rawat jalan dan terus dipantau oleh tenaga kesehatan serta pihak RSUD Biak.
Tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, Kodim 1708/Biak Numfor, Lanal Biak, Yonif, Polres Biak Numfor, Brimob, dan unsur terkait lainnya akan melanjutkan operasi pencarian terhadap tiga korban yang masih belum ditemukan selama dua hari ke depan. Pencarian akan dilakukan pada area Ring 1 dan Ring 2 dengan radius pencarian yang diperluas hingga sekitar empat kilometer dari lokasi ledakan.
Kapolres Biak Numfor AKBP Ari Trestiawan, S.H., S.I.K., M.H., menyampaikan bahwa seluruh unsur yang tergabung dalam tim gabungan terus bekerja secara maksimal untuk menemukan korban yang masih belum ditemukan serta memastikan keamanan lokasi kejadian.
"Fokus kami saat ini adalah melanjutkan pencarian terhadap tiga korban yang masih belum ditemukan, sekaligus memastikan proses identifikasi korban dapat berjalan dengan baik. Kami juga mengimbau masyarakat agar tetap mematuhi arahan petugas dan tidak memasuki area yang masih menjadi lokasi pencarian maupun penyelidikan guna menghindari risiko yang tidak diinginkan," ujar Kapolres.
Lebih lanjut, Kapolres menegaskan bahwa pengamanan di sekitar lokasi ledakan akan tetap dilaksanakan sampai seluruh tahapan pencarian dan penyelidikan selesai dilakukan.
"Walaupun area sumber ledakan telah dinyatakan steril oleh Tim Jibom dan Gegana, kami tetap melakukan pengamanan dan pembatasan akses di lokasi. Hal ini untuk mendukung proses olah TKP lanjutan serta memberikan ruang kepada tim gabungan dalam melaksanakan tugas pencarian secara optimal," tambahnya.
Komandan Detasemen Gegana Sat Brimob Polda Papua AKBP Clief Gerald Philipus Duwith, S.E., S.I.K., M.Si., menjelaskan bahwa timnya telah menyelesaikan proses sterilisasi pada area yang diduga menjadi pusat ledakan.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan dan penyisiran yang dilakukan oleh Tim Jibom dan Gegana, area Ring 1 telah dinyatakan steril dari potensi bahan peledak aktif. Namun demikian, kami tetap merekomendasikan agar area tersebut tidak dimasuki masyarakat sampai seluruh proses penyelidikan dan pencarian korban selesai dilaksanakan," jelasnya.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol. Cahyo Sukarnito, S.I.K., M.K.P., mengapresiasi sinergi seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan pasca ledakan, mulai dari TNI, Polri, Basarnas, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, hingga relawan yang turut membantu proses pencarian dan identifikasi korban.
"Kami menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel dan instansi yang telah bekerja tanpa henti sejak hari pertama kejadian. Sinergi yang baik antarinstansi menjadi kunci dalam penanganan peristiwa ini, baik dalam proses pencarian korban, identifikasi, maupun pengamanan lokasi," ungkap Kabid Humas.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan menunggu informasi resmi yang disampaikan oleh pemerintah maupun aparat yang berwenang.
Perwakilan Bid DVI Polda Papua menjelaskan bahwa proses identifikasi melalui pemeriksaan DNA diperkirakan membutuhkan waktu paling cepat tujuh hari. Namun, waktu tersebut dapat bertambah tergantung kondisi dan tingkat kesulitan sampel yang diperiksa.
Seluruh unsur yang terlibat berkomitmen untuk terus melakukan pencarian korban, pengamanan lokasi, serta proses identifikasi secara maksimal hingga seluruh korban ditemukan dan proses penanganan pasca ledakan dapat diselesaikan dengan baik. Situasi selama pelaksanaan kegiatan rilis dan proses penanganan di lapangan dilaporkan berlangsung aman, tertib, dan kondusif.
