Palembang, 18 Februari 2026 – Peresmian Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue di Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, menjadi langkah lanjutan setelah program serupa sebelumnya diresmikan di Jakarta pada 29 September 2025. Program ini dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan bersama Dinas Kesehatan Kota Palembang dan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya sebagai bagian dari penguatan pengendalian dengue di daerah.
Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif vaksinasi dan pemantauan aktif ini sebagai bagian dari visi jangka panjang pembangunan kesehatan. Ia menegaskan bahwa dengue bukan sekadar isu musiman, melainkan tantangan kesehatan yang harus dihadapi secara berkelanjutan dan terencana. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, katanya, berkomitmen memperkuat pencegahan dengue sejalan dengan target nasional dan global menuju nol kematian akibat dengue pada 2030. Ia menekankan pentingnya langkah proaktif berbasis data, kolaborasi lintas sektor, pengendalian vektor, edukasi masyarakat, serta inovasi kesehatan berbasis bukti ilmiah guna melindungi generasi muda dan memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, dr. H. Trisnawarman, M.Kes., Sp.KKLP., Supsp.FOMC, menyampaikan bahwa dengue merupakan ancaman sepanjang tahun. Berdasarkan data hingga 31 Desember 2025, tercatat 4.437 kasus dengan 22 kematian di Sumatera Selatan, dengan Kota Palembang mencatat kasus tertinggi yakni 968 kasus dan tiga kematian. Dalam lima tahun terakhir, kasus terbanyak ditemukan pada kelompok usia 15–44 tahun (42 persen), sementara dalam tujuh tahun terakhir kematian terbanyak terjadi pada kelompok usia 5–14 tahun (41 persen). Ia menegaskan bahwa pemerintah provinsi terus mendorong penguatan 3M Plus, edukasi kebersihan lingkungan, penguatan peran jumantik, serta inovasi seperti ovitrap. Namun, tantangan yang semakin kompleks memerlukan pendekatan lebih komprehensif, termasuk vaksinasi dan pemantauan aktif bagi anak usia 6–10 tahun di Palembang.
Ketua Pelaksana Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Sumatera Selatan, dr. Ariesti Karmila, Sp.A(K)., M.Kes., menjelaskan bahwa dengue merupakan penyakit endemis di Indonesia yang kerap dianggap ringan, padahal dapat berkembang menjadi berat dan berisiko menyebabkan kematian. Ia menekankan pentingnya pencegahan konsisten melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan 3M Plus serta Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik. Menurutnya, vaksinasi menjadi pelengkap untuk memperkuat upaya yang telah berjalan. Program di Palembang menyasar 7.500 anak di 60 sekolah dasar pada wilayah kerja 10 puskesmas dengan laporan kasus tertinggi, dengan 5.000 anak menerima vaksinasi. Vaksin yang digunakan telah dipasarkan di Indonesia lebih dari tiga tahun dan direkomendasikan asosiasi medis untuk anak dan dewasa.
Dekan Universitas Sriwijaya, Prof. Dr. dr. Mgs. Irsan Saleh, M.Biomed, menyatakan bahwa keterlibatan pihaknya merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pemantauan aktif ini, ujarnya, akan memperkuat pendidikan berbasis riset, menghasilkan bukti ilmiah sebagai dasar kebijakan kesehatan, sekaligus menjadi wujud pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Kesehatan Kota Palembang, serta Takeda Pharmaceutical Company dinilai penting untuk memastikan pelaksanaan berjalan terkoordinasi dan berbasis ilmiah.
Penanggung Jawab Kegiatan Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Nasional, Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K), menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari pemantauan multinegara yang juga dilaksanakan di Thailand dan Malaysia. Di Indonesia, kegiatan berlangsung di Jakarta, Palembang, dan Banjarmasin selama tiga tahun. Ia menyebutkan bahwa vaksinasi juga telah dilaksanakan di beberapa daerah atas inisiatif pemerintah daerah. Menurutnya, vaksinasi merupakan inovasi kesehatan yang aman dan efektif dalam mencegah penyakit infeksi berbahaya. Hasil pemantauan aktif ini diharapkan menjadi dasar penguatan kebijakan nasional menuju target “Zero dengue death” 2030, atau setidaknya menurunkan 50 persen kematian dan 25 persen angka kejadian dengue.
Sementara itu, Head of Medical Affairs PT Takeda Innovative Medicines, dr.Arif Abdillah, menegaskan komitmen perusahaannya sebagai mitra jangka panjang Indonesia dalam mendukung perlindungan masyarakat dari dengue. Ia menyatakan bahwa tantangan dengue membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang konsisten, berbasis sains, dan berorientasi jangka panjang. Melalui kerja sama dalam program pemantauan aktif ini, pihaknya mendukung penguatan perlindungan kesehatan anak dan ketahanan masyarakat, sejalan dengan misi perusahaan untuk berkontribusi pada peningkatan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.
